puncak
PUNCAK
Awalnya aku tak pernah tau apa itu puncak. Yang ku tau puncak adalah tempat tertinggi dimana ku mendaki. Dan di tempat itu, aku bisa lihat berjuta karya Tuhan dengan mata ini. Ya, awalnya hanya itu. Karna saat itu aku beranggapan, hidup ini terasa nggak lengkap kalo aku belum pernah melihat dengan mata ini sendiri keagungan itu.
Akhirnya aku beranikan diri untuk memasuki ekskul pecinta alam di sekolahku yang namanya THA. THA singkatan dari Teladan Hikking Assosiation. THA adalah kumpulan anak-anak tolol tapi nyenengin. Ya, itulah anggapanku tentangnya.
Jujur, tahap-tahap memasuki THA tidaklah mudah. Aku harus melewati berbagai rintangan yang mungkin bisa dibilang mendewasakan aku. ya… walaupun aku tetep kekanak-kanakan sih. Pii paling enggak dari semua tahap itu aku mendapatkan pelajaran berharga di masa mudaku. Nggak Cuma pelajaran tapi juga sebuah cerita berharga di masa ini. ^^
Setelah aku berhasil melewati tahap-tahap itu, akhirnya apa yang aku inginkan dari kecil tercapai juga. Waktu memberikan aku kesempatan untuk menggapai yang aku inginkan. Waktu memberi kesempatan agar mimpiku bisa terwujud walaupun hanya sekali. Ya, bagiku itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Terima kasih waktu. J
Tapi… tapi… ternyata mendaki gunung tak semudah yang aku bayangkan. Jalan yang berliku, penuh halangan dan rintangan harus kita lewati dengan sabar dan teguh pendirian. Karna tanpa rasa sabar dan teguh perjalanan kita akan percuma. Karna tanpa rasa itu kita nggak akan mencapai puncak. Itukan sama aja bohong, udah capek-capek naik gunung, tapi nggak nyampe puncak ya
Setiap satu langkah kaki itu sangatlah berharga. Karna disetiap langkah itulah yang akan menghantarkan kita menuju puncak. Jujur, pertama kali aku melakukan pendakian, aku mendapatkan banyak pelajaran berharga. Dalam hidup.
Aku ngerasa, berjalan menuju puncak, itu sama seperti sebuah kehidupan. Dalam kehidupan penuh permasalahan dan juga liku yang kita tak pernah tau bagaimana ujungnya. Iya
Sama seperti naik gunung. Awal pendakian, kita tak pernah tau bagaimana wujudnya puncak. Yang kita tau, kita mempunyai niat menaklukan gunung dihadapan kita. Tanpa pernah kita tau bagaimana rintangan diperjalanan kita nanti. Tanpa pernah kita tau, di tengah jalan nanti kita mendapatkan jalan yang mudah atau susah. Tanpa pernah kita tau, di tengah jalan nanti kita akan tetap lanjut, diam atau berbalik dan menyerah dengan sebuah kekalahan. Ya, begitu juga hidup ini.
Saat kita lahir, aku yakin setiap manusia mampunyai jalannya masing-masing untuk menuju puncaknya. Dan di setiap jalan itu tidaklah mulus. Pasti selalu ada kerikil, batu yang menghadang, atau mungkin lubang jebakan. Dan nggak selamanya mereka bisa berjalanan dengan angkuhnya. Terjatuh bukan berarti lemah. Mereka yang terjatuh mungkin justru bisa lebih hati-hati ketika melangkah, sehingga ketika akan menuju puncak, mereka tak akan terjatuh pada lubang yang sama. Iyakan?
Bagiku, mereka yang terjatuh lalu berani berdiri melanjutkan perjalanan itu lebih berharga daripada mereka yang hanya mendapat rintangan kerikil dan bebatuan saja. Aplous deh buat mereka yang udah berani berdiri….
Mugkin bener ya kata orang, semakin susah permasalahan yang kita hadapi, berarti semakin tinggi tingkatan kita dalam kehidupan. Lihat aja para pendaki-pendaki itu!
Semakin mendekati puncak, semakin banyak juga rintangan yang harus dilalui. Mereka yang akan menuju puncak, tidak hanya melewati bebatuan, kerikil, dan terjatuh dalam lubang. Tetapi mereka juga harus melewati jalan-jalan yang curam, tebing-tebing tinggi, bebatuan yang licin, dan mungkin juga rasa haus yang menekak tenggorokan. Dan saat itulah kesabaran mereka diuji.
Perbedaannya pendakian dengan kehidupan adalah puncak pendakian itu terlihat, tapi kalo puncak kehidupan itu tidak terlihat. Hmm… kadang, kita menyerah disaat yang tidak tepat. Kita memutuskan untuk menyudahi semuanya, ketika puncak tinggal beberapa langkah lagi. Betapa bodohnya kita kalo harus menyerah disaat itu.
Lalu apa gunanya menyerah, kalo kekuatan itu sebenarnya ada. Percaya nggak sih, kalo setiap orang itu punya kekuatan diluar batas pikir kita. Aku pernah ngerasaan itu di pendakian keduaku.
Waktu itu aku udah ketinggalan jauh banget ama rombogan depanku. Aku udah bener-bener nggak kuat. Perutku laper, aku haus banget ampe nggak bisa nelen ludah, tapi juga nggak bisa minum banyak soalnya persediaan air udah nipis. Waktu itu aku sempet kepikiran buat nyerah. Pii untung ada temenku yang selalu nyemangatin aku. diperjalananku yang udah mendekati puncak itu –walaupun sebenarnya masih jauh- aku berteriak, “GUPIE SEMANGAAAAATTT!!!” dan membuang nafasku dengan satu hentakan.
Dan percaya nggak percaya, aku jadi orang nomor 5 nyampe puncak. Sumpah, nyampe puncak aja aku nggak pernah nyangka apalagi aku bisa jadi orang kelima nyampe puncak. Haha…. Dan saat itu aku percaya, kalo sugesti itu emang bener-bener ada.
Sugesty itu adalah kekuatan didalam diri kita, diluar batas pikir. Dan itu semua hanya diri kita yang dapat mengendalikannya. Saat kita dapat mengendalikan kekuatan itu, Insya Allah, kita akan menjadi kuat.
Dan satu hal yang perlu kita tau. Diluar diri kita memang banyak rintangan yang menghadang. Tapi pernahkah kita tau? Rintangan terbesar itu sebenarnya ada didalam diri kita. Saat kita memutuskan untuk berhenti, dengan sekejap semuanya pun akan berhenti, dan ringtangan di luar diri kita seolah-olah menjadi sesuatu yang lebih berharga dari diri kita sendiri. Akan tetapi, ketika kita memutuskan untuk tetap lanjut, maka semuanya akan lanjut, dan kau akan tunjukkan betapa berartinya dirimu dengan menakluikkan rintangan tersebut.
Maka dari itu kita bisa tahu, bahwa peran diri kita sangatlah penting. Jadi menjadilah diri sebaik mungkin. Karena Insya Allah, Allah akan memberimu puncak terindah. Siapa sih yang nggak mau ndapetin puncak terindah?
Setelah mlewati berbagai rintangan itu, kamu akan tau betapa berarti hidup. Dengan menikmati betapa indahnya berada di puncak. Puncak itu terlalu indah untuk dilambangkan dengan kata-kata.
Jujur, pemandangannya begitu memukau, kita bisa melihat awan secara jelas, kita bisa melihat keagungan itu dengan jelas. Melihat keindahan itu membuat segala keluh kesah lelah dan dahaga di perjalanan tadi menjadi hilang. Dan saat itu juga, kita seolah-olah tak berkutik. Mau tau kenapa? Karena orang yang benar-benar mencapai puncaknya, mereka bukan malah sombong, tapi mereka justru menundukkan kepala dan merasa betapa besarnya kekuasaan Tuhan. Apa yang patut kita sombongkan? Kalo yang kita sombongkan itu sebenarnya bukan milik kita.
Ya, begitulah hal berharga yang aku dapatkan dalam pendakian. Tapi semua penjelasan ini masih terlalu sederhana. Masih banyak hal yang belum aku ungkapkan. Seperti tentang kekompakan, rasa saling tolong yang begitu pekat, persahabatan yang indah, pertemanan yang abadi, saling pengertian, perjalanan yang penuh keceriaan dan pengalaman yang tak
Ya, itulah yang aku dapat dari pendakian. Mungkin sebagian orang picik yang tak pernah mengerti bagaimana cara memahami hidup, mereka akan berpikir bahwa pendakian merupakan kerjaan konyol dan nggak ada arti. Selain Cuma nyapein badan dan ngitemin kulit. Hmm… terserah deh. Dan semoga setelah kalian baca tulisan ini, kalian bisa tahu betapa berartinya hal yang kulakukan.
Dan satu hal yang terpenting, kalian tak akan pernah mendapatkan pengalaman seindah pengalamanku. Hahahahaha………
Ya Allah, terima kasih atas segala hal yang telah engkau beri. Karena dengan itu semua… Aku bisa mendaki gunung dengan kaki ini. Aku bisa melihat karya indah-Mu dengan mata ini. Aku pun juga bisa mendengar merdunya kicauan burung di kala pagi menjelang dengan telinga ini. Dan dengan tangan ini, aku bisa menulis tulisan ini.
Terimakasih ya allah
Gupie tha 667
Comments