ruang itu indah
Dulu, mungkin aku merasa terasingkan di tempat itu. Aku merasa tempat itu bukan duniaku. Saat itu yang ingin aku lakukan hanya marah-marah dan marah. Aku merasa aku telah kehilangan masa mudaku. Aku merasa di tempat itu aku seperti di penjara. Dan hal itu akan terjadi hingga tiga tahun.
Di tahun pertama, aku tak pernah henti-hentinya menangis. Itu saat terberatku untuk menerima kenyataan di masa mudaku. Karna daridulu, yang aku inginkan mempunyai masa muda yang indah, dan punya cerita. Bukan di tempat kaya gini, yang membungkamku untuk berekspresi.
Waktu demi waktu pun berlalu. Aku menyadari ada yang keliru dalam kehidupanku. Sedikit demi sedikit aku memahami apa yang aku lalui. Perlahan tapi pasti aku menemukan jawaban yang tlah lama aku cari dalam keterasinganku ini.
Bukan waktu, dan bukan pula tempat yang membuatku terasingkan. Tapi dirikulah yang membuatku asing. Aku tau, aku tak kan mampu mengubah keadaan. Semua yang terbaik telah terlewatkan. Cerita-cerita yang seharusnya terukir indah, seperti sesuatu yang tak berarti. Ya, harus aku akui, ini semua kesalahanku. Mungkin belum terlambat untuk memperbaiki semuanya. Sebelum banyak yang terlewatkan.
Di tahun yang kedua, aku mencoba merubah semua tingkahku untuk memahami arti hari-hari yang ku alami ini. Aku terus mencoba menghadapi sesuatu hal dengan senyuman. Ya walaupun terkadang harus tersenyum dalam tangis. Dan taukah, apa yang aku rasakan? Subhanallah...
Aku tau, mungkin masa mudaku tak seindah masa-masa remaja yang lain. Yang penuh cerita bahagia dan cerita nakal. Mungkin dulu aku menyesali memasuki ruangan itu, tapi sekarang enggak lagi. Aku bersyukur telah memasuki ruangan itu. Ruang itu adalah ruang terbaik yang Allah beri untukku. Seperti doaku yang dulu, yang meminta terbaik untukku, bukan terbaik dimata orang. Di ruang itu aku menemukan arti kehidupan yang sesungguhnya. Aku menemukan arti ketulusan yang sebenarnya. Aku menemukan arti keceriaan tanpa sebuah kemunafikan.
Mungkin dulu aku menangis, tapi kini aku tau arti sebuah senyuman.
Terima kasih semuanya yang membuatku memahami arti hidup ini.
Terima kasih waktu yang memberiku kesempatan mengenal mereka.
Terima kasih Ya Allah yang memberiku waktu memasuki ruang itu.
Di tahun pertama, aku tak pernah henti-hentinya menangis. Itu saat terberatku untuk menerima kenyataan di masa mudaku. Karna daridulu, yang aku inginkan mempunyai masa muda yang indah, dan punya cerita. Bukan di tempat kaya gini, yang membungkamku untuk berekspresi.
Waktu demi waktu pun berlalu. Aku menyadari ada yang keliru dalam kehidupanku. Sedikit demi sedikit aku memahami apa yang aku lalui. Perlahan tapi pasti aku menemukan jawaban yang tlah lama aku cari dalam keterasinganku ini.
Bukan waktu, dan bukan pula tempat yang membuatku terasingkan. Tapi dirikulah yang membuatku asing. Aku tau, aku tak kan mampu mengubah keadaan. Semua yang terbaik telah terlewatkan. Cerita-cerita yang seharusnya terukir indah, seperti sesuatu yang tak berarti. Ya, harus aku akui, ini semua kesalahanku. Mungkin belum terlambat untuk memperbaiki semuanya. Sebelum banyak yang terlewatkan.
Di tahun yang kedua, aku mencoba merubah semua tingkahku untuk memahami arti hari-hari yang ku alami ini. Aku terus mencoba menghadapi sesuatu hal dengan senyuman. Ya walaupun terkadang harus tersenyum dalam tangis. Dan taukah, apa yang aku rasakan? Subhanallah...
Aku tau, mungkin masa mudaku tak seindah masa-masa remaja yang lain. Yang penuh cerita bahagia dan cerita nakal. Mungkin dulu aku menyesali memasuki ruangan itu, tapi sekarang enggak lagi. Aku bersyukur telah memasuki ruangan itu. Ruang itu adalah ruang terbaik yang Allah beri untukku. Seperti doaku yang dulu, yang meminta terbaik untukku, bukan terbaik dimata orang. Di ruang itu aku menemukan arti kehidupan yang sesungguhnya. Aku menemukan arti ketulusan yang sebenarnya. Aku menemukan arti keceriaan tanpa sebuah kemunafikan.
Mungkin dulu aku menangis, tapi kini aku tau arti sebuah senyuman.
Terima kasih semuanya yang membuatku memahami arti hidup ini.
Terima kasih waktu yang memberiku kesempatan mengenal mereka.
Terima kasih Ya Allah yang memberiku waktu memasuki ruang itu.
Comments