YANG KE DELAPAN BELAS
Selamat ulang tahun GUPITA PRAMITASARI... ^^
DECEMBER SEVEN 1991. DECEMBER SEVEN 2009. I LOVE DECEMBER.
AYAH, IBU, sekarang aku udah gedhe, umurku udah delapan belas tahun... :’)
Delapan belas tahun? Nggak pernah terfikir secepat ini aku melangkah. Keliatannya barusan aja kemarin aku terjatuh karena belajar jalan, sekarang... aku dengan bangganya melangkah, menapakki hari-hariku dengan angkuh, tanpa pernah peduli dengan orang –orang yang mengusap air mataku waktu aku terjatuh dulu. Berjalan dan berjalan tanpa ku sadari aku bukan gadis kecil lagi yang butuh uluran tangan untuk menjagaku agar ku tak terjatuh.
Kembali ke masa lalu. Delapan belas tahun yang lalu, aku hadir kedunia ini. Mereka menyambut kehadiranku dengan senyuman dan air mata bahagia. Tak tau apa yang kurasa, tapii aku hanya bisa menangis.
Aku hadir dalam ketidaktauanku. Aku hadir dalam ketidakmampuanku. Aku hadir dalam kehampaan. Saat itu aku tak pernah tau apa itu cinta dan kasih sayang. Saat itu aku pun tak pernah tau apa itu kehidupan. Bahkan aku sendiri tak pernah mengenal siapa aku. Saat itu aku Cuma gadis kecil yang nggak tau apa-apa dan bukan siapa-siapa. Aku nggak beda sama gadis ingusan yag hanya bisa menangis, ya menangis!
Mereka. Mereka lah yang mengusap air mataku ketika aku menangis. Segala cara mereka lakukan agar aku terdiam dari tangisku. Tak jarang, mereka mengajarkan aku untuk tersenyum. Dan ketika mereka melihat senyumku, melihat tawaku, terlihat kebahagiaan yang tak sanggup kuartikan dengan kata-kata.
Mereka. Merekalah yang membantuku melangkahkan kaki ini. Menjagaku agar ku tak terjatuh. Dan memapahku ketika aku mulai lelah tuk melangkah. Mereka, mereka tak pernah jenuh untuk membantuku agar aku bisa melangkah.
saat aku tak tau arti sebuah kebahagiaan, mereka memperlihatkan aku arti sebuah senyuman. Saat aku tak bisa berjalan, mereka mengajarkan aku untuk melangkah. Saat aku tak bisa berkata, mereka mengajarkanku untuk bersuara. Saat aku tak tau apa itu cinta, mereka menunjukkan aku berjuta kasih sayang yang tak mumpu tergantikan.
Mereka, merekalah yang selalu ada di awal hidupku. Dari mereka, aku mengenal cinta dan kasih sayang. Dari mereka aku belajar kehidupan. Dan dari merekalah aku mengenal diriku.
Di hari ini aku menangis. Bukan! Aku menangis bukan karena aku takut bertambah tua. Tapi tangisan ini adalah tangisan kebahagiaan. Aku bahagia berada di tempat ini bersama mereka. Aku tak tau apa jadinya aku bila bukan mereka yang mengasuhku. Hari ini, di umurku yang udah delapan belas tahun, pengen banget memeluk mereka dan mengucapkan terima kasih. Sebelum usiaku bertambah lebih tua. Tapi aneh! Ada perasaan canggung untuk melakukannya.
Delapan belas tahun bukan waktu yang singkat. Tapi semua terasa singkat, bahkan mungkin terlalu singkat, mungkin itu semua karena aku terlalu sibuk dengan masa depan. Aku lupa menoleh kebelakang. Aku lupa ada orang-orang yang sangat berjasa dalam kehidupanku. Aku sibuk dengan diriku sendiri. aku lupa, aku bukan siapa-siapa tanpa mereka. Hingga tanpa aku sadari banyak hal tlah aku lewatkan, bahkan hanya sekedar mengucapkan kata terima kasih.
Aku terdiam,dan sedikit merenung. Jujur, tak tau apa yang sedang aku pikirkan, tapi untuk saat ini aku takut kehilangan mereka. Aku takut... Aku pengen banget mbales kebaikan mereka. Nggak hanya sekedar ucapan terimakasih, tapii ama sesuatu yang bisa membuat mereka tersenyum. Mungkin emang sih apa yang aku kasih nanti nggak ada artinya apa-apa sama semua yang udah mereka kasih buat aku. Tapi... aku ingin melihat senyum yang pertama kali aku lihat dulu. Dah lama aku nggak lihat senyum itu lagi, terlalu lama malah.
Ya Allah, terimakasih atas segala hal yang Kau beri padaku.
Terimakasih engkau telah memberiku kesempatan berada disamping mereka.
terima kasih Engkau telah memberiku waktu bercengkerama dengannya.
Terima kasih, Engkau telah membuatku kuat karena nasehatnya.
Terima kasih Ya Allah, TERIMA KASIH TERIMA KASIH TERIMA KASIH...
YA ALLAH, ijinkan aku membuat mereka bahagia dengan jalanMu. Karena aku yakin, jalanMu akan selalu lebih baik dari rencanaku.
Comments